Penyelamat Ibu Pekerja

Permintaan yang besar dengan pesaing minim membuat katering makanan bayi dan anak tak pernah sepi pelanggan.

Bagi ibu pekerja, masuk dapur setiap pagi untuk memasak makanan buat si kecil kadangkala tidak sempat lagi. Padahal, ibu mana, sih, yang tak ingin memastikan buah hatinya mengonsumsi makanan sehat? Di celah ini, katering makanan sehat untuk balita bisa menjadi pilihan para ibu. Seiring dengan banyaknya permintaan, bisnis ini kini merebak di kota-kota besar. Target market yang spesifik membuat prospek bisnis katering ini sangat menjanjikan. Tertarik? Yuk, belajar dari tiga wanita yang menekuni bisnis ini.

Responden:
Neura Azzahra (N), 33, Katering Bebitang
Inta Heruwanto (I), 29, Katering Mamma Kanin
Lynda R. Zaldy (L), 38, Katering Mymeal

Terpikir ide bisnis ini?
Neura (N): Bisnis ini berawal ketika adik saya, Nandra Janniata (28), memiliki anak, Kenzie (3,5). Sebagai pekerja kantoran, setiap pagi ia tidak sempat memasak makanan untuk anaknya. Karena itu, sayalah yang membuatkan makanan untuk Kenzie. Ternyata, Kenzie menyukai masakan saya. Saya pun mulai terpikir untuk berbisnis makanan bayi. Mengajak adik, saya memulai bisnis ini pada September 2010. Saya mengurus bagian produksi, sedangkan adik di bagian marketing.
Inta (I): Kakak saya, Dira (32), setiap pagi menitipkan anaknya, Luminara (3), kepada ibu kami, Ranty Heruwanto (58). Sehari-hari, ibulah yang mengurusi makanan Luminara. Ibu yang jago masak menggunakan resep asli keluarga. Tak heran, Luminara jadi doyan makan. Dari situ, saya terpikir untuk membuat makanan homemade untuk bayi dan anak-anak. Awalnya, saya buat riset kecil sebelum mulai dengan membagikan produk gratis pada teman-teman yang memiliki bayi. Karena responsnya bagus, bulan Maret 2010 saya berani membuka bisnis ini bersama Ibu.
Lynda (L): Tahun 2005, saya masih bekerja kantoran dan ketika itu anak saya, Andrea masih berumur 4 tahun, diasuh babysitter. Karena ingin yang terbaik untuk Andrea, maka saya memasak sendiri. Saya berpikir, pasti di Jakarta ini banyak ibu pekerja yang butuh makanan sehat bagi anaknya. Saya harus menangkap peluang bisnis ini dan membuka bisnis bersama suami.

Berapa modal awalnya?
N: Karena peralatan masak sudah punya, maka kami hanya membeli bahan-bahannya saja. Saya juga mengalokasi sebagian dana untuk biaya pembuatan website. Total modal kami hanya Rp3 juta.
I: Kurang dari satu juta karena awalnya kami hanya membeli bahan-bahan dalam jumlah kecil. Sedangkan peralatan, kami gunakan apa yang sudah kami punya.
L: Lebih dari Rp100 juta. Karena saya dan suami ingin serius berbisnis ini, kami membeli berbagai macam peralatan, bahan baku, dan menyewa tempat untuk kantor dan proses produksi. Sewa tempat itulah yang banyak memakan modal.

Apa saja produk Anda?
N: Produk kami bervariasi, ada katering harian (sushi, omelette, corn cream soup, pisang panggang keju), cake dan puding aneka rasa, frozen food (rollade, bakso sapi, nugget), hidangan set menu (tumpeng karakter, bento). Menu itu untuk usia antara 7-12 bulan dan di atas 12 bulan. Saat ini, karena banyak permintaan, kami membuat bumbu-bumbu praktis untuk para ibu yang ingin memasak sendiri, misalnya bumbu mi goreng dan soto untuk anak-anak. Jadi, ketika traveling, memasak pun mudah karena sudah ada bumbu jadi.
I: Produk kami ada cookies, frozen puree (yang terbuat dari sayuran organik yang dikukus dan dibekukan), dan baby meals yang lebih berstruktur untuk usia 8 bulan ke atas. Menunya, untuk bayi usia 6 bulan, 8 bulan, 10 bulan, hingga di atas 12 bulan. Dalam perkembangannya, kami mengeluarkan menu untuk ibu hamil, tentunya dengan rasa yang telah disesuaikan untuk orang dewasa dan tetap menggunakan bahan organik.
L: Katering harian untuk bayi berumur 6 bulan sampai anak-anak di bawah usia 12 tahun. Menunya sangat personal, disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan. Namun, karbohidrat, protein, vitamin, harus seimbang. Satu paket menu misalnya: kentang rebus, ayam goreng, sayur brokoli, jus, dan buah.

Apa kelebihan bisnis Anda?
N: Jangkauan pemasaran kami yang luas. Selain Bintaro dan Serpong, kini kami merambah Jabodetabek. Produk frozen food kami berbahan dasar alami. Inilah produk unggulan kami dan penjualannya terus meningkat.
I: Produk kami berkonsep sehat. Tanpa garam, gula, pengawet, MSG, dan susu. Susu dihindari karena ada beberapa bayi dan anak yang alergi. Selain itu, bahan dasar yang kami gunakan adalah sayur dan buah organik.
L: Pertama, bisnis kami sangat personal, menyesuaikan kebutuhan pelanggan. Setiap produk kami buat atas pesanan masing-masing pelanggan. Kami bisa melayani kebutuhan makanan anak-anak yang menderita obesitas, alergi, juga anak autis. Kedua, kami menerapkan makanan sehat dari bahan organik dan tanpa bahan kimia. Bahkan, untuk bumbu, misalnya saus tomat, kami buat sendiri. Makanan sehat menjadi kelebihan produk kami. Target kami, anak-anak memiliki kebiasaan makan yang benar dengan gizi yang seimbang.

Berapa harganya?
N: Harga produk kami bervariasi, dari yang termurah Rp3.000 (bumbu), Rp37.000 (frozen food), hingga Rp150.000 untuk tumpeng karakter.
I: Produk kami memang lebih mahal, karena bahan kami organik dan berkualitas baik. Harga produknya mulai dari Rp15.000 hingga Rp100.000.
L: Kami menerapkan sistem paket per 15 hari atau per 30 hari. Harga mulai Rp750.000 untuk paket 15 hari.

Bagaimana pemasarannya?
N: Kami memasarkan produk kami lewat word of mouth dan media sosial, seperti facebook, twitter, dan website. Awalnya, pelanggan kami hanya 1 orang saja. Namun, karena ia aktif berbicara di lingkungan teman-temannya, makin banyak yang pesan katering kami. Saat ini, untuk makanan bayi, setiap hari sekitar 10 orang pelanggan. Sedangkan untuk frozen food, sekitar 100-150 paket terjual dalam seminggu. Permintaan pelanggan dari luar kota yang terus meningkat membuat kami membuka cabang di Bandung.
I: Kami memanfaatkan twitter, blog, dan website. Saya sengaja tidak membuka gerai dan hanya menerapkan toko online karena inilah gaya belanja yang disukai ibu-ibu saat ini. Promosi melalui twitter berdampak besar pada bisnis kami.
L: Awalnya, kami hanya menyebar brosur saja. Saat ini kami telah memiliki website dan beriklan di media di daerah untuk menjangkau pelanggan di lain daerah. Saat ini, kami tengah merencanakan promosi melalui media sosial, seperti facebook dan twitter.

Berapa omzet Anda?
N: Lebih dari Rp15 juta per bulan.
I: Yang jelas sudah lumayan. Saat ini, usaha kami telah mempekerjakan 4 orang kurir, 3 asisten untuk memasak di dapur, dan 1 customer service untuk menerima pesanan.
L: Dengan ribuan pelanggan yang ada di database kami, omzet kami mencapai Rp100 juta per bulan. Kami sudah memiliki 4 cabang, yaitu Cibubur, Jakarta, Tangerang, dan Semarang.

Tantangan bisnis ini?
N: Masalah pengiriman dan kondisi jalanan tidak bisa diprediksi. Pernah, kami dimarahi pelanggan karena kiriman kami terlambat datang karena ban motor kurir kami kempes. Sebagai kompensasi, kami menggantinya keesokan harinya. Dengan perhatian itu, pelanggan tetap loyal.
I: Tantangan awalnya ialah membuat para ibu percaya bahwa produk kami sehat, karena terbuat dari bahan organik dan terjaga kesegarannya karena dibuat pagi itu juga. Namun, saya tidak menyerah. Dengan menjaga kualitas produk, lama-kelamaan pelanggan percaya pada kami.
L: Membuat makanan tiap pelanggan dengan kebutuhan yang berbeda-beda membuat kami kerepotan pada awalnya. Namun, lama-kelamaan masalah ini bisa diatasi. Tantangan terberat kami saat ini adalah pengiriman produk. Cuaca yang tidak menentu dan kondisi jalanan yang macet terkadang membuat kurir kami harus ekstra kerja keras. Untuk mengatasinya, kami membuka cabang lain, untuk mempersempit area pengiriman.

Strategi Anda untuk bertahan di bisnis ini?
N: Karena katering makanan bayi mulai banyak, strategi untuk bertahan adalah terus melakukan inovasi produk. Dulu, kami hanya mengandalkan katering makanan saja, lantas kami berinovasi membuat produk frozen food yang agak tahan lama. Ternyata, produk inilah yang banyak peminatnya. Agar lebih dekat dengan pelanggan, kami membuka outlet di Graha Bintaro, Jakarta Selatan. Jadi, pelanggan bisa datang, melihat, dan memilih secara langsung produk kami, tak perlu lagi menunggu kurir datang.
I: Terus melakukan pengembangan, terutama untuk promosi. Saat ini, kami sudah membuat mobile site untuk website agar bisa diakses melalui smartphone. Ini sangat membantu pelanggan agar lebih praktis saat memesan produk kami. Kami tak hanya menunggu, tapi menjemput bola dengan menyediakan jasa parsel dan melayani katering untuk ulang tahun anak.
L: Awalnya, katering kami khusus untuk bayi dan anak. Lantaran banyak permintaan dari ibu-ibu, kami lantas membuat katering makanan untuk orang dewasa. Tak hanya itu, tiap 2 minggu menu makanan kami selalu ada yang baru. Menu baru idenya justru didapat dari para pelanggan.

Bagaimana perkembangan bisnis ini ke depan?
N: Saat ini frozen food merupakan produk andalan kami. Saya juga tengah mengusahakan izin dari BPOM agar produk kami bisa masuk ke supermarket.
I: Mulai tahun ini, kami membuka kelas untuk setiap weekend di Miniapolis, Plaza Indonesia. Setiap Jumat sore untuk kelas memasak anak-anak, mulai dari umur 3-12 tahun, dan setiap Sabtu pagi ada kelas memasak untuk para ibu.
L: Inginnya bisa membuka cabang di daerah lain. Namun, karena terbentur modal, kami berpikir untuk membuka sistem franchise, sehingga orang lain bisa bermitra bersama kami.

Temui Mereka di Dunia Maya!
1. http://www.bebitang.com, twitter: @bebitang
2. http://www.mammakanin.com, twitter:@MammaKanin,
Facebook: http://www.facebook.com/Mammakanin
3. http://www.mymealcatering.com
Daria Rani Gumulya
Foto: Dok. Pribadi, dok. Femina Group

Advertisements

Laura Basuki & Leo Sandjaja, Bermula dari Facebook

e

Foto: Dokumen Pribadi untuk Femina

Perjalanan cinta pasangan yang usianya beda jauh ini, memasuki episode baru: pernikahan.

Cinta memang unik, tak bisa ditebak datangnya. Berawal dari keisengan memasang status di facebook, model papan atas yang juga seorang aktris, Laura Basuki (23), berkenalan dengan pengusaha Leo Satrya Sandjaja (34). Keduanya mengaku jatuh hati pada pertemuan pertama. Sejak itu, benih cinta tumbuh dan terus dipupuk, hingga waktu menyatukan mereka dalam sebuah ikrar pernikahan.

JODOH TAK DIUNDANG
Senyum manis Laura dan Leo mengembang ketika bertemu femina di salah satu butik di Jakarta Selatan. Kepada femina, pengantin baru ini ingin membagi sepenggal cerita cinta mereka. Awal perkenalan Laura dengan Leo berupa ketidaksengajaan ketika Laura memasang foto dirinya menggunakan gaun pengantin di laman facebook. “Usai pemotretan gaun pengantin sebuah bridal, saya juga menuliskan status, ‘Siapa, nih, yang mau jadi suami saya?’” ungkapnya. Keisengan Laura ternyata disambut serius oleh sahabatnya, Rinaldy A. Yunardi, yang berjanji akan mengenalkannya kepada temannya, Leo.
Tak menunggu waktu lama, Leo yang telah setuju untuk dikenalkan, segera mengambil langkah awal dengan mengajak Laura kencan pertama. “Saya masih ingat sekali pertemuan pertama kami. Setelah Laura fashion show, kami makan dan ngobrol di sebuah restoran Jepang di salah satu mal di Jakarta Selatan,” kenang Leo, tersenyum.
Dari situ, Laura merasa ‘nyambung’ saat ngobrol dengan Leo. Diam-diam Laura menyimpan rasa suka pada Leo karena pembawaannya yang santun dan tenang. Leo pun merasakan hal yang sama, dia mengagumi kecantikan dan wawasan luas yang dimiliki Laura. Pulang dari pertemuan itu, keduanya intens berkirim pesan melalui blackberry messenger atau saling menelepon. “Sejak itu, dia tak pernah absen sehari pun bertemu saya. Entah menjemput saya di lokasi syuting atau sekadar makan siang bareng,” ungkap Laura, dengan mata berbinar.
Dalam perjalanan, Leo mengakui, ia sempat ragu melangkah bersama karena profesi artis dan model yang disandang Laura. Selama ini dia menilai artis identik dengan gaya hidup glamor dan kawin cerai. “Namun, setelah mengenalnya lebih lama, keluarganya, dan pola pikirnya, saya justru makin yakin saya mencintainya,” kata Leo.
Satu bulan menjalani proses pendekatan, sekitar Mei 2009, Leo sudah memberanikan diri ‘melamar’ Laura menjadi kekasihnya. Pulang dari jalan-jalan ke pembudidayaan kulit buaya di Banten, mereka mampir di salah satu restoran Jepang di Jakarta, dan di situlah Leo menyatakan cintanya. “Saya, sih, sudah suka dari awal bertemu, jadi langsung diterima saja,” ungkap Laura, tanpa basa- basi.
Masa pacaran yang indah pun mereka arungi. Di bulan ketiga, Leo sudah merasakan Laura adalah wanita yang tepat untuk mendampingi hidupnya. “Saya yakin she is the one, dia dewasa, selalu memotivasi saya untuk lebih baik. Ia bisa memperbaiki kesalahan saya tanpa menggurui. Saya pun membayangkan growing old dengannya,” jelas Leo. Ajakan menikah Leo disambut baik oleh Laura. Sejak pertama bertemu Leo, ia pun yakin Leo adalah pria pilihannya.

a

Foto: Dok.pribadi untuk Femina

TERPAUT USIA 11 TAHUN
Kendala muncul ketika Laura menyatakan keinginannya menikah dengan Leo kepada orang tuanya. Saat itu, Laura masih berusia 21 tahun, dan belum selesai kuliah. Perbedaan usia mereka yang 11 tahun, dan Leo termasuk orang yang baru dikenal Laura, juga membuat orang tuanya sangsi.”Orang tua khawatir karier saya akan terhenti setelah menikah, padahal usia saya masih muda,” jelas wanita keturunan Semarang-Vietnam ini. Kemudian ia menjelaskan kepada orang tuanya bahwa ia tidak takut kehilangan kariernya setelah menikah.
Berbekal keyakinan, Laura mengenalkan Leo kepada orang tuanya, sekaligus untuk membiarkan orang tuanya menilai pribadi Leo. Ternyata, hanya dalam waktu singkat, Leo bisa mengambil hati kedua orang tua Laura. “Saya coba menjadi diri sendiri, jujur, dan bermaksud baik untuk membahagiakan putri mereka,” jelas Leo, mengemukakan kiatnya.
Meski restu dari orang tua telah di tangan, baru satu tahun kemudian mereka bertunangan. “Waktu itu, kami sedang makan. Dia menyuruh saya untuk mengecek saku jaket saya. Ternyata, ada cincin mungil yang ia taruh diam-diam. Bahagia rasanya,” ujar peraih gelar Pemeran Wanita Terbaik Festival Film Indonesia 2009, ini.
Kisah percintaan keduanya terbilang mulus. Dua tahun merajut kasih, tak pernah sekali pun keduanya pernah mengucapkan kata putus, meski tetap ada kerikil kecil dalam hubungan mereka. Seperti di awal pacaran, Leo mengaku sering cemburu melihat Laura beradegan pelukan saat syuting. “Biasanya, kalau cemburu, dia diam seharian. Lucu melihatnya gelisah mengecek isi handphone saya,” ungkap wanita penyuka es krim ini. Karena itulah, Laura membawa Leo ke lingkungan teman-temannya. Lama-kelamaan Leo percaya bahwa kekasihnya melakukan adegan tersebut demi tuntutan profesionalisme semata, sehingga ia mencoba lebih fleksibel.
Tak hanya Leo, Laura pun mengaku pernah cemburu saat Leo begitu ramah kepada pelanggan restorannya. Sebagai pebisnis restoran, Leo kerap berjumpa dengan banyak pelanggan wanita cantik. Untuk itu, Laura sering minta diajak, bila ada acara di restorannya, “Agar bisa memantau,” Laura beralasan.
Selama pacaran, perbedaan usia yang lumayan jauh tidak pernah menjadi hambatan. Leo melihat, Laura pribadi istimewa. “Dia dewasa. Bicara dengannya saya tak merasa dia lebih muda 11 tahun dari saya. Kami menjadi diri kami masing-masing,” kata Leo. Laura pun mengakui Leo bisa mengimbangi dirinya yang masih muda. Bahkan, Leo sangat humoris dan mengerti dirinya. Meski begitu, Laura sempat minder ketika diajak ke lingkungan pertemanan Leo, yang menurutnya sudah berumur. “Padahal, kalau dengan Leo, kami seperti seumuran, tapi dengan mereka seperi ada jarak,” ungkapnya.

dPERNIKAHAN TAMAN BUNGA
Bagi Leo dan Laura, rentang waktu dua tahun sudah cukup untuk mengenal satu sama lain. Dan, tibalah saat yang dinanti, tanggal 25 Juni 2011, keduanya mengikrarkan janji sehidup semati di depan altar Gereja Reformed Injili, Kemayoran, Jakarta Pusat. Mereka berharap, pernikahan ini sekali seumur hidup. “Saya siap menjalani komitmen ini,” ujar Laura bersemangat.
Malamnya, mereka menggelar pesta mewah di sebuah hotel berbintang dengan konsep pernikahan ditata menyerupai taman bunga. “Temanya, midsummer night dream dengan banyak bunga lavender, karena saya suka hal-hal yang berbau fairy, sedangkan Leo suka yang maskulin. Tema itu menggabungkan keinginan kami berdua,” jelas Laura, sambil menatap mesra suaminya.
Benar-benar seperti dongeng. Laura mengatakan, kehidupan pernikahannya persis seperti bayangannya selama pacaran. Menurutnya, perhatian Leo tak berubah sedikit pun usai menikah. “Dia memperlakukan saya seperti berlian,” ujar Laura, senang.
Laura mengaku beruntung bersama Leo yang kerja kantoran dengan jam kerja yang pasti, sehingga malam hari mereka selalu bisa bertemu di rumah. Terlebih, Leo ternyata suami yang pengertian. Saat Laura keletihan syuting, ia selalu membereskan barang bawaan milik Laura. “Men-charge BB saya, memijat, bahkan mencuci piring. Itu sangat romantis,” puji Laura. Sedangkan Leo, sangat menyukai sisi romantis Laura dengan selalu mengantarkannya sampai depan rumah bila ia bekerja, dan membawakan bekal untuk makan siang.
Hal lain yang membuat Laura senang, Leo tidak ngorok saat tidur, sesuai harapannya. Namun, ia sempat kaget mendapati Leo suka tidur dengan mengenakan kaus lusuh dan berlubang. Ia yang sudah mengenakan baju tidur cantik bersanding dengan pakaian tidur Leo yang ‘apa adanya’. “Saya menyuruhnya ganti, tapi dia keukeuh tidak mau. Katanya, kaus-kaus berlubang itu paling nyaman untuk tidur,” katanya, sambil tertawa.
Pasangan yang baru saja berbulan madu ke Amerika ini tetap menggunakan kata ‘Yang’ sebagai panggilan sayang satu sama lain. Namun, ketika bertengkar, kata ‘Yang’ pun berubah jadi memanggil nama saja. “Tapi, pertengkaran kami paling bertahan hanya satu hari. Saat berbaikan, kami saling menautkan kelingking. Kalau sudah begitu, artinya sudah kangen berat. Maklum, kalau bertengkar, kami jadi saling memunggungi,” jelas Laura, sambil tertawa.
Pernikahan tak membuat Leo membatasi pekerjaan Laura sebagai model maupun aktris. Meski memberikan kebebasan, sesuai perjanjian pranikah mereka, Laura kini tidak boleh diantar pulang oleh teman laki-laki. Selarut apa pun, dia harus pulang sendiri atau minta dijemput Leo. Ketika kelak mereka memiliki anak, Laura hanya diminta cuti dulu dari pekerjaannya selama satu tahun, agar konsentrasi merawat anak.
Ke depan, Laura dan Leo berencana ingin membentuk keluarga yang harmonis, dengan satu atau dua anak saja. “Saya ingin keluarga kecil yang solid, takut pada Tuhan, dan baik,” jelas Leo, mantap. Laura lantas menambahkan bahwa mereka sempat ingin menunda kehamilan setahun dua tahun. Namun, karena banyak orang bilang, kalau ditunda akan sulit hamil, maka sekarang mereka berserah saja kepada Tuhan. “Kami sepakat maksimal dua anak saja, agar lebih fokus mendidiknya,” kata Laura, tersenyum bahagia.
Daria R. Gumulya, Artikel ini pernah dimuat di Femina edisi 36 tahun 2011
Foto: Dok. Pribadi

Trishi Setiayu Pemoles Citra Perusahaan

F 03

Foto : Dennie Ramon (Feminagroup)

Ia terpacu untuk membawa perusahaannya meraih Top of Mind Awareness di industri public relations Indonesia.

Trishi Setiayu (35) menganut prinsip, untuk menjadi wirausaha tangguh tak cukup hanya modal uang dan kerja keras. Mental tak mau menyerah dan berani bangkit di masa krisis adalah hal utama untuk menjaga kelanjutan bisnisnya.

TANPA MODAL UANG
Sepuluh tahun lalu, mungkin nama Trishi Setiayu sama sekali tidak diperhitungkan dalam dunia PR Indonesia. Namun, wanita kelahiran 10 Agustus 1979 ini kini telah sukses menakhodai Image Dynamics, konsultan public relations (PR) ternama Indonesia.

Berawal dari menangangi satu klien, kini ia telah mengelola pencitraan dan publikasi banyak perusahaan papan atas Indonesia, seperti Djarum Foundation Bakti Budaya, Nestle Indonesia, dan Coca Cola Indonesia. Ia juga menangani acara entertainment seperti konser musik lokal dan internasional serta kehadiran pemain olahraga internasional.
Kecintaan Trishi pada dunia PR dimulai tahun 2002, ketika ia masih mahasiswa di Fakultas Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Jakarta. Kala itu, Trishi sempat magang di bagian humas maskapai Garuda Indonesia. Merasa belum puas magang satu bulan di corporate, ia ingin mengembangkan wawasannya di dunia PR dengan magang lagi di agensi PR, Rika & Rekan (R&R) Communications.

“Setelah melewati dua kali magang, saya makin menyukai dunia PR. Bekerja di PR agensi sangat menyenangkan,” jelas wanita berambut lurus ini. Setelah lulus kuliah, ia tak melewatkan kesempatan bekerja penuh di R&R Communications. Setelah satu setengah tahun bekerja, ia memutuskan resign demi melanjutkan kuliah S-2. Sembari mencari gelar master, ia tetap bekerja freelance menjadi private PR consultant.

Tahun 2004, ia menangani proyek salah satu kliennya bernama Utomo Wisjnu. Utomo puas dengan kinerja Trishi yang cekatan. Dalam sebuah obrolan makan malam, Utomo bersama rekannya, Harry Tumengkol, menawari Trishi untuk ber-partner membentuk perusahaan PR. Trishi tak melewatkan kesempatan emas begitu saja. Ia berani menerima tantangan dua partner tersebut.

“Saya dan Harry lebih banyak terlibat dalam pelaksanaan kerja, sedangkan Utomo lebih banyak support khususnya di tahun awal, karena dia memiliki bisnis lain,” ujar wanita bernama lengkap Agusti Bramanti Setiayu ini. Mereka bertiga memberi nama perusahaan tersebut, Image Dynamics, dengan filosofi dinamis dan terus bergerak.
Trishi ingat, ketika ia belum memiliki karyawan, ia dan Harry mengerjakan semua keperluan press conference sendiri. Mulai dari meeting konsep dengan klien, membuat proposal, mengundang media, memasang backdrop, hingga sebagai penerima buku tamu. Dalam membangun bisnis ini, Trishi mengaku hanya bermodalkan meja, laptop, dan ponsel. “Tanpa modal uang sepeser pun,” ungkap Trishi, bangga.

Tantangan awal yang ia hadapi adalah persaingan dengan perusahaan besar yang sudah ada. Namun, ia memiliki strategi khusus, meyakinkan klien dengan hasil kerja maksimal dan performance yang tidak boleh turun. Hasil kerja yang ia maksud adalah konten (kualitas) dan kuantitas pemberitaan sesuai target. Karena itulah, ia dan tim harus aktif menjalin relasi baik dengan klien dan awak media. “Hubungan kami dengan rekan media sudah seperti teman, bahkan saudara,” jelas wanita berbintang Leo ini. Inilah yang ia pandang sebagai nilai lebih Image Dynamics.
Keberhasilan Trishi dalam memimpin perusahaan selama 10 tahun tak lepas dari nilai-nilai yang ia pegang. Pertama, tiap karyawan harus memiliki passion dengan apa yang mereka kerjakan. Kedua, mereka harus respect pada orang lain, termasuk OB sekalipun. Ketiga, proaktif, baik hubungan dengan klien maupun wartawan. Keempat, praktikal. Hal ini diterjemahkan salah satunya adalah dengan membuat proposal tanpa proses yang ribet namun tepat sasaran. “Keempat prinsip inilah yang kemudian kami tularkan kepada karyawan yang kini telah berjumlah 26 orang,” ucap wanita yang pernah bercita-cita menjadi arsitek ini.
Seperti halnya pebisnis lain yang pernah melewati kegagalan, Trishi pun tak luput dari masa-masa krisis yang membuat usahanya nyaris bangkrut. Ia mengaku mengalami krisis keuangan hebat pada tahun ketiga, karena tak ada uang masuk ke kas perusahaannya.

“Kelemahan saya saat itu ada di pengelolaan sistem keuangan. Saya hampir menutup perusahaan,” kenangnya. Namun, ia tak mau berhenti. Semangatnya terlecut kembali ketika ia membayangkan nasib 10 karyawan yang akan di-PHK. “Mereka punya keluarga. Rasa tanggung jawab ini membentuk saya untuk kuat dan tidak menyerah,” jelas Trishi.
Beruntung, ada seorang teman yang akhirnya memberikan solusi untuk membantu mengelola sistem keuangan perusahaannya. Tak hanya itu, di tahun ke-5, Image Dynamics mendapat pinjaman kredit UKM dari bank untuk mengembangkan perusahaan. “Ini sangat membantu memulihkan keuangan,” jelasnya.

MIMPI GO INTERNATIONAL
Melihat kiprahnya yang menginspirasi banyak orang, tahun 2013 lalu, seorang teman mendorong Trishi untuk mengikuti Lomba Wanita Wirausaha (Wanwir) yang diadakan majalah femina. Trishi yang sebenarnya tidak begitu suka berkompetisi, menimbang ide tersebut hingga tiga bulan. Akhirnya, ia pun nekat mendaftar tanpa harapan apa pun. Ia pun mengikuti proses seleksi yang panjang dari verifikasi jenis usaha, membuat business plan, penyisihan 30 besar, hingga ia terpilih masuk menjadi 15 finalis.

Trishi sama sekali tak menyangka lolos menjadi finalis, karena ia merasa semua pesaingnya adalah wirausaha hebat dengan omzet miliaran rupiah. Ia menilai banyak manfaat dari progam Wanwir yang ia ikuti, salah satunya tidak mudah puas, dengan terus melakukan inovasi baru.
Manfaat lain yang tak kalah penting menurutnya adalah bertambahnya networking. “Melalui program ini, saya bertemu puluhan wanita wirausaha dari berbagai industri. Ini penting untuk mengembangkan bisnis,” ujar Trishi, yang senang menghabiskan waktu luangnya dengan menata dekorasi rumah dan berkebun.
Memilih profesi sebagai wirausaha sekaligus seorang ibu, Trishi mengaku harus juggling membagi waktu yang makin sibuk. Beruntung, ia memiliki suami yang sangat mengerti akan pekerjaannya. Selain itu, dalam mengasuh anaknya, Gemintang Nashayu Sukandar (3), Trishi juga melibatkan ibunya untuk membantunya ketika ia bekerja.

Bagi penyuka warna merah ini, hal paling penting dalam pengasuhan anak adalah kualitas waktu. Sebisa mungkin ia meletakkan gadget ketika sampai di rumah. “Baru setelah anak tidur, saya mengecek gadget kalau ada e-mail penting untuk urusan pekerjaan yang harus segera direspons,” jelas istri Moza Sukandar (35) ini.
Membagi waktunya untuk bekerja sekaligus mengurus rumah, menurut Trishi harus bisa berkompromi dengan dua sisi hidupnya ini. Tak dipungkiri, dengan load pekerjaannya, terutama saat menghadapi event atau klien yang besar, ia harus rela lembur beberapa hari. Kalau sudah begini, ketika pekerjaannya sudah selesai, Trishi akan mengambil setengah hari kerja untuk pulang ke rumah lebih cepat.

Meski sukses telah diraih, ia masih memendam cita-cita untuk mewujudkan Image Dynamics menjadi Top of Mind PR Company di Indonesia. Perusahaan lokal harus bisa menjadi pemain terkuat di negaranya. “Target lain, saya ingin perusahaan ini go international. Inginnya makin banyak event internasional yang kami pegang,” ujarnya, optimistis. Tahun lalu, Image Dynamics berhasil menyelenggarakan pemutaran film di Arizona, AS, dan Sydney, Australia, serta turnamen olahraga kelas dunia di Bali.

Dari sekian pencapaian sebagai entrepreneur sukses, Trishi masih menyimpan impian, kelak dapat membangun rumah pemberdayaan wanita. Ide ini terlintas ketika ia melihat ibu-ibu muda menggendong anak di jalanan bekerja sebagai joki 3 in1. “Saya ingin suatu saat memberi mereka wadah untuk belajar memasak atau menjahit. Saya yakin mereka dapat berdaya secara ekonomi,” ujarnya, penuh harap.

Daria Rani Gumulya
Artikel ini pernah diterbitkan di Femina 33 tahun 2013

Abimana Aryasatya ‘Terdampar’ di Dunia Akting

abimana

Foto: Feminagroup

Ia pernah terkenal dengan nama Robertino. Setelah sempat vakum, kembali menjadi bintang dengan nama yang berbeda. Mengapa?

Akting, musik, dan keluarga menjadi bagian dari drama tiga babak dalam kehidupan yang dilakoni oleh Abimana Aryasatya (30). Taburan ‘bumbu’ pahit manisnya kehidupan berhasil menjinakkan jiwa pemberontaknya, dan mengubahnya menjadi pria dewasa, pengayom keluarga. Ia pun mengisahkan perjalanan transformasinya.

HANYA TAMPAK PUNGGUNG
Perjalanannya di dunia sinema berawal pada tahun 1995. Pria yang sempat menjajal peruntungan sebagai model ini mengenal industri perfilman dari seorang temannya. Saat itu ia diajak untuk menjadi kru yang mengurusi wardrobe (kostum) untuk salah satu sinetron. Di sinilah sang nasib mulai ikut campur tangan. Karena pemeran utama sinetron, Ryan Hidayat, meninggal dunia, ia diminta menjadi stand-in.

“Postur kami mirip, dan sama-sama berambut gondrong. Waktu itu saya hanya disyuting dari belakang saja,” ujarnya, tertawa. Sejak itulah, Abi mulai ditawari menjadi figuran di beberapa sinetron, salah satunya yang terkenal adalah sinetron remaja Lupus Milenia.
Setelah sempat vakum di layar kaca, tiba-tiba Abimana mencuri perhatian publik dalam perannya sebagai Andi dalam film Catatan si Boy (2011), debut film pertamanya. Tak hanya itu, ia juga mengejutkan publik dengan mengganti namanya dari Robertino menjadi Abimana Aryasatya.

“Dengan mengubah nama, saya ingin menjadi orang yang baru dan terlepas dari bayang-bayang ayah saya dan masa lalu saya,” ujar pria yang tak mengenal ayahnya sejak kecil ini. Dalam bahasa Kawi, nama barunya ini memiliki arti ’orang yang memberi kebanggaan bagi orang lain’. “Nama baru membawa harapan dan doa-doa baru. Doa dari istri dan anak-anak saya, yang merupakan orang-orang yang saya cintai dalam hidup saya,” ungkap pria berdarah Spanyol-Tionghoa ini.
Nyatanya, nama baru hasil rembukan bersama istrinya, Nidya Ayu (30), ini tidak hanya membuat Abi lebih percaya diri, tapi juga membawa hoki! Sejak kemunculannya dengan nama baru di film Catatan si Boy, dewi fortuna terus mengitari Abi. Tahun 2012 ini, ia berturut-turut dipercaya sebagai aktor utama di beberapa judul film dalam waktu hampir bersamaan. Sebut saja Republik Twitter, Dilema, Keumala, dan yang akan tayang dalam waktu dekat, Belenggu.
Meski tawaran akting mulai berdatangan, Abi ternyata cukup selektif dalam memilih peran. “Jika ada adegan yang tidak sesuai nilai-nilai agama, seperti adegan ranjang, tidak akan saya ambil,” ujar pria yang selalu melibatkan istrinya dalam mempertimbangkan tawaran peran ini.

Di sebagian besar filmnya, Abi sering ketiban peran pria easy going yang cuek dan jail. Padahal, dalam kehidupan nyata, Abi mengaku jauh dari karakter itu. “Saya tipe orang serius dalam menjalani kehidupan, dan cenderung tertutup. Saya tidak mudah akrab ketika bertemu orang baru,” akunya.
Abi percaya, lulus tidaknya kemampuan aktingnya ditentukan oleh kritikan atau pujian penonton akan filmnya. Meski ia telah dipercaya membintangi peran utama di beberapa film, pria penyuka karedok ini mengaku tidak memiliki target apa pun dalam dunia akting.

abimana1

Foto: Dokumentasi Feminagroup

“Saya tidak pernah menginginkan penghargaan apa pun. Apabila mendapatkan, itu bonus, jika tidak, tak jadi masalah,” ujar pengagum aktor Daniel Day Lewis ini. Abi menegaskan, dirinya tipe manusia yang tidak memiliki patokan untuk menjadi seseorang. “Saya manusia yang rolls like rolling stone. Saya hanya mencoba melakukan yang terbaik dengan waktu yang saya punya,” ungkapnya.
MENGGELANDANG DEMI MUSIK
“Saya sebenarnya bukan manusia di depan layar. Saya tidak nyaman di-make up, tersorot lampu, dan memakai kostum yang tidak sesuai kepribadian saya,” jelasnya. Kepada femina, ia jujur menganggap akting hanyalah pekerjaan semata, tempatnya mencari penghasilan. “Kalau ada pekerjaan lain yang bisa memberikan penghasilan sama dengan akting, akan saya lakukan,” ungkap pria yang belum tertarik terjun ke dunia sinetron ini.
Mengawali karier di dunia model dan besar di dunia sinema, ternyata pada dunia musiklah hatinya tertambat. “Bermusik adalah dunia saya, jiwa saya,” kata pria yang mengaku Slankers ini. Abi bercerita, perkenalannya dengan musik ketika ia kecil. Ibunya sering memutar lagu-lagu band Led Zeppelin di rumah. “Saya bermimpi suatu saat memiliki band sebesar itu.”
Begitu cintanya pada dunia musik, ketika SMP, Abi memilih meninggalkan bangku sekolah untuk fokus mengejar mimpinya itu. Ia keluar dari rumah, hidup mengembara dari satu tempat ke tempat lain, bekerja di bengkel, menjadi penjaga toko, berjualan kaus. Ia ingin membuktikan keseriusannya menekuni musik. Sampai pada suatu waktu ia menyadari merilis album tidaklah mudah.

“Saya sempat stres, membakar CD dan gitar karena kecewa dengan pilihan saya bermusik,” tuturnya. Namun, tak berapa lama kemudian, kerinduan untuk kembali bermusik mengusiknya. Bersama band-nya, Drona, ia merilis sebuah single berjudul Gadis dalam Mimpi. Lagu ini bahkan menjadi salah satu soundtrack Republik Twitter dan masuk chart di Radio Geronimo FM, Yogyakarta.

Abi berjanji pada diri sendiri untuk mulai menata hidupnya, dan membesarkan band-nya, sehingga musiknya bisa diterima banyak orang. “Tantangannya tidak mudah. Agar band tetap solid, kami harus meleburkan ego masing-masing untuk satu tujuan yang sama,” ungkap vokalis Drona ini.

HIDUP ADALAH KOMITMEN
Menikah dan berkeluarga menjadi titik balik hidup Abi. Ia dan istrinya menikah saat usia mereka relatif muda, 19 tahun. Ia bercerita, perjumpaan pertama dengan istrinya terjadi di Solo. Setelah melakukan pendekatan hanya 4 bulan, akhirnya ia melamar istrinya. “Cerita kami tidak seromantis drama di film.” Ia dan istrinya berkomitmen untuk membangun keluarga, membesarkan anak-anak sampai mereka tutup usia.

Bagi Abi, hidup itu adalah petualangan dan pilihan. “Memutuskan untuk menikah tak perlu pertimbangan lama. Saya sudah lama tidak tinggal dengan keluarga, saya sangat kesepian dan ingin memiliki anak-anak dan keluarga yang lengkap,” ungkap ayah dari Belva Ugraha (8), Satine Zaneta (7), Bima Bijak (3), dan Arsanadi Arka (6 bulan) ini. Ketika istrinya hamil anak pertama, ada perubahan pada diri Abi. Ia tak lagi sering keluar malam dan minum alkohol. “Saya berhenti melakukan kenakalan saya, namun belum bisa berhenti merokok,” ungkapnya.
Masa-masa awal menjadi ayah merupakan masa indah baginya. Hidupnya tak lagi sepi. Perasaan kosong di hatinya selama ini menjadi terisi karena kehadiran anak-anaknya. “Saya ingin balas dendam pada masa lalu saya dengan menunjukkan bahwa saya memiliki keluarga yang bahagia. Membesarkan anak-anak dengan cara terbaik yang saya mampu,” ungkapnya.

Sebagai orang tua, Abi memiliki idealisme dalam mendidik anak-anaknya. Ia tidak ingin memaksakan anak-anaknya menjadi apa kelak. “Saya mau mereka melakukan apa pun yang mereka inginkan. Mereka harus bersenang-senang dalam hidup.” Meski membebaskan pilihan anak-anaknya, ia tetap memberikan batasan bagi mereka untuk tidak melanggar norma agama. “Saya mau anak-anak menikmati masa kecilnya, tak mau membebani mereka dengan kewajiban harus belajar sekian jam setiap hari,” ujar pria pengagum keindahan Karimun Jawa ini.
Di waktu luangnya, ketika tidak syuting atau latihan musik, Abi betah berlama-lama di rumah. “Bercanda bersama anak-anak di kamar, itu hal paling membahagiakan dalam hidup saya.” Di lain waktu, ia akan mengajak keluarganya ‘piknik’ sederhana di Ragunan. “Kami membawa makanan, duduk di atas tikar, mengobrol, sambil memandangi pohon-pohon,” ungkap Abi, yang tak suka ke mal.
Pria berambut panjang ini mengaku banyak mendapat pelajaran hidup dari falsafah Jawa. “Saya tidak ingat ungkapannya dalam bahasa Jawa. Tetapi, inti dari falsafah itu mengajarkan saya untuk selalu berpegang pada komitmen, kerja keras, dan kejujuran, dalam menjalani hidup,” ungkap penggemar tokoh wayang Bima ini, menutup pembicaraan.
*) Artikel ini pernah terbit di majalah Femina edisi 16 tahun 2012
Daria Rani Gumulya
Foto: Irvan Arryawan, Dok. Belenggu.
Pengarah Gaya: Aulia Fitrisari

Kemilau Talenta Harly Bastiaans

harly

Foto: Feminagroup

 

Harly merasa, Wajah Femina telah mengasahnya dari sebutir berlian mentah menjadi bintang yang siap bersinar.

“Menjadi seorang model dan pembaca berita adalah impian saya. Sekarang, saya akan mewujudkan impian itu, dengan memulainya dari ‘ketikan ini’ di halaman formulir pendaftaran Wajah Femina 2012. This is my turn!”
Itulah penggalan kalimat yang ditulis Harly Valentina Bastiaans (20) pada formulir online Wajah Femina (WF) 2012. Hanya dalam hitungan bulan, ia mampu mewujudkan mimpinya, menjadi pemenang Wajah Femina kategori Best Presenting.

Penetap Target
Mata Harly berbinar-binar saat bertemu femina, dua bulan setelah malam penobatan WF 2012. “Saya baru saja ikut casting presenter di sebuah stasiun televisi swasta. Ini pengalaman pertama buat saya,” ungkapnya, bersemangat. Setelah memenangkan gelar Best Presenting WF 2012, ia mengaku merasa lebih percaya diri untuk mengikuti casting sebagai penyiar berita.

Pengalaman pertama casting ini sangat berkesan bagi Harly. Pasalnya, begitu ia selesai membacakan berita, semua kru bertepuk tangan. “Mereka merasa cocok dengan karakter suara saya,” ungkap wanita kelahiran 3 Mei 1992 ini, bangga. Saat itu juga, Harly dinyatakan lolos ke tahap simulasi.

Harly merasa sangat beruntung. Dari 12 orang yang lolos ke tahap simulasi, hanya dia yang belum memiliki pengalaman sebagai presenter. Sedangkan ke-11 kandidat lainnya, sudah mempunyai jam terbang dan ‘nama besar’ di dunia penyiaran.
Mahasiswa semester enam di Jurusan Ekonomi Manajemen, Universitas Atmajaya ini menyadari, WF 2012 memiliki andil atas semua hal yang ia capai saat ini. “Ajang ini menggali potensi saya sebenarnya, sebagai presenter, yang selama ini saya abaikan,” ungkap wanita yang mahir mendesain kartu ucapan ini.
Selama ini, Harly hanya tahu dirinya ingin menjadi model yang suatu saat berjalan di catwalk. Ia memang memiliki pengalaman sebagai model kalender dan katalog online sebuah label pakaian wanita. Namun, ia tak pernah menyadari potensi lain dalam dirinya hingga ia mengikuti kelas presenting yang disampaikan Valentino Simanjutak, yang seolah ‘membangunkan’ passion di dalam dirinya.
“Materi yang disampaikan Valentino sangat juara! Bagaimana cara kita knowing the audience, building relation, dan win over the audience, semua ini modal utama untuk menjadi presenter profesional,” jelas Harly, bersemangat. Setelah mengikuti kelas itu, terjawab sudah rasa keingintahuannya tentang dunia penyiaran.

Tak hanya itu, pengalaman Isyana Bagoes Oka, Pemenang WF 2000, yang kini menjadi news anchor, memotivasi Harly untuk mengikuti jejaknya. Sejak kelas presenting berakhir, ia fokus menetapkan target meraih gelar Best Presenting.
Bagi Harly, tidak ada yang tak mungkin. Dalam hidup, ia memegang teguh prinsip ‘kemauan, semangat, dan target’, yang ia pelajari dari mamanya, Yulianti Susanto. Beliaulah pendukung setianya dalam kompetisi WF 2012. “Mama bahkan memfotokopi foto saya di halaman femina, untuk disebarkan ke semua tetangga agar mereka memilih saya,” ujarnya, tertawa terbahak.

harly1

Foto: Feminagroup

Langkah Harly dalam mewujudkan mimpi terlihat mulus saat Erwin Parengkuan, juri presenting, memuji suaranya dan memilihnya sebagai finalis terbaik saat penjurian. Menurut Erwin, secara keseluruhan, mulai dari artikulasi, karakter suara microphonic, penghayatan, ditambah rasa percaya diri, Harly unggul dari finalis-finalis lainnya.
“Duduk dalam jajaran 20 finalis ini merupakan kemurahan Tuhan. Kemenangan ini adalah bonus sekaligus tiket untuk melancarkan jalan karier yang akan saya pilih,” ujar wanita berdarah Manado-Cina-Belanda ini. Ia mengatakan, inilah pencapaian terbaiknya, yang ia persembahkan bagi sang ibu yang menjadi inspirasinya.

Pebisnis Muda
Siapa sangka, selain tengah merintis karier di dunia entertainment, Harly juga sudah merintis bisnis event organizer (EO), bernama God Bless, bersama tujuh temannya, sejak tahun 2011. Mayoritas acara yang ditanganinya adalah acara pernikahan dan gathering perusahaan. “Pekerjaan pertama kami, pernikahan orang Batak. Meski ribet, acara berlangsung sukses dan klien pun puas dengan hasil kerja kami,” ujar Harly, yang sekarang selalu bertugas menjadi MC di tiap acara yang ia tangani.
Harly mengaku, tantangan bisnis EO sangat berat karena persaingan yang ketat. Namun, ia memiliki cara ampuh untuk meyakinkan klien yang akan menggunakan jasa EO-nya, yakni kemampuan komunikasi yang baik ketika presentasi di depan klien.

“Saya selalu mempelajari karakter orang atau perusahaan calon klien terlebih dulu. Caranya bisa melalui browsing atau tanya teman. Dengan lebih mengenal calon klien, kami bisa lebih memahami kebutuhan mereka sehingga akan lebih mudah juga untuk menyampaikan apa yang kami tawarkan,” ujarnya. Menurutnya, bisnis EO adalah bisnis kepercayaan. Jika kualitas jasa yang ia tawarkan bagus, maka klien pun akan sukarela merekomendasikan EO-nya kepada orang lain.
Dalam membesarkan bisnis ini, Harly pernah mengalami kesulitan. Suatu kali, ia pernah ditipu vendor penyedia baju. Untuk itu, EO-nya harus mengganti semua biaya pakaian yang telah dipesan. “Otomatis ini mengurangi pendapatan yang kami terima. Akhirnya, uangnya hanya cukup untuk mengganti biaya transportasi. Namun, kami tetap profesional, mengerjakan event sampai selesai,” kenang Harly.

Selain sibuk mengurus bisnisnya, wanita penggemar fotografi ini juga memiliki kesibukan lain yang ia lakukan sejak SMA: menjadi guru sekolah Minggu di Gereja Duta Injil. Meski tidak bisa menyanyi atau menari, ia tetap ingin melakukan pelayanan sesuai kemampuannya. Wanita cantik ini ternyata andal mengurus anak-anak!
Sudah selama empat tahun, tiap hari Minggu, Harly aktif mengajar anak-anak kelas 1-3 SD. Untuk memenuhi tanggung jawab sebagai guru, seminggu 3 kali, ia perlu datang ke gereja untuk menyiapkan materi yang akan ia berikan di hari Minggu. “Entah mengapa, anak-anak selalu cepat akrab dengan saya,” ujar sulung dari dua bersaudara ini.
Tampaknya, hari-hari Harly menjadi makin sibuk setelah WF 2012. Wanita yang rajin menulis semua kegiatannya di agenda ini mengatakan, jadwalnya kini dipadati training. “Bulan Februari ini mulai pelatihan presenter di TALKinc. Di bulan Maret, saya mulai magang siaran di Radio U-fm. Ini hadiah sempurna dan sangat berguna bagi saya!” tuturnya, antusias.
Padatnya jadwal harian ini menyebabkan Harly menunda waktu untuk berlibur. “Jika ada waktu luang, saya memilih untuk berkumpul bersama keluarga besar saya di Tegal. Itu merupakan momen yang sangat berharga. Tapi, untuk saat ini, saya harus fokus menyelesaikan kuliah dan mengejar karier saya sebagai presenter,” ujarnya, menutup pembicaraan.

P

Foto: feminagroup

Daria Rani Gumulya
Artikel ini pernah dimuat di Femina edisi 9 tahun 2013

Dapatkan koleksi sepatu terbaru, Wedges Batik,  yang nyaman, berkualitas dan fashionable di ShoesVaganza – Online Shoes Indonesia

http://shoesvaganza.com/DIARYDARIA_mw26-611

Arnold Poernomo & Filosofi Makanan

Arnold-0755

Foto Starmedia untuk Femina

Wajah tampan dan penampilannya yang segar selalu ditunggu pemirsa televisi setiap akhir pekan. Arnold Poernomo (24) adalah bintang baru yang melejit sebagai Juri Master Chef Indonesia Season 3, menggantikan Juna Rorimpandey. Ia mengaku tak takut dicap juri berkomentar ‘pedas’, karena apa yang ia inginkan membimbing chef amatir dan mengubahnya menjadi master chef terbaik.

Berawal dari Tukang Cuci
Dunia kuliner menjadi napas bagi Arnold. Lahir dan dibesarkan di keluarga pemilik restoran steak di Surabaya, sejak kecil Arnold sudah menghabiskan sebagian besar waktunya di dapur. Bermain-main hingga membantu ibunya memotong wortel. Bahkan, saat kelas 4 SD dia sudah bisa membuatkan minuman untuk pelanggan restorannya.
Tahun 1999, ketika ia masih duduk di kelas 6 SD, Arnold dan keluarganya pindah ke Sydney. Sydney, kota multikultural yang dipenuhi orang dari berbagai bangsa. Di sana, ia melihat atmofer yang berbeda dari Surabaya. Pertama yang ia tangkap, restoran di Sydney menyajikan masakan dengan bahan dan bumbu yang tak pernah ia kenal. Begitu pula pelayanan yang jauh berbeda. Ia mulai tertarik dengan dunia kuliner.
“Umur 14 tahun, saya memberanikan diri melamar pekerjaan di suatu restoran dekat rumah,” ungkap anak pasangan Junarmo Poernomo dan Boyke Malada ini. Usahanya bekerja di restoran ditolak. Tak patah arang, ia melamar hingga dua kali. Ketiga kalinya, ia diterima sebagai tukang cuci piring di dapur. “Seminggu tiga kali, sepulang sekolah, saya bekerja,” ungkap anak pria kelahiran 15 Januari 1989 ini.
Dari situlah, ia berkenalan dengan chef restoran yang mengajarinya teknik memasak beragam makanan. Arnold cepat menyerap ilmu yang diajarkan. Sisi buruknya, karena terlalu asyik bekerja, ia lupa untuk belajar di sekolah. “Pelajaran yang membuat saya tertarik hanya Bahasa Inggris dan ekstrakurikuler memasak, saya bahkan ikut selama 2 tahun,” jelas anak kedua dari tiga bersaudara ini.
Setelah bekerja sebagai tukang cuci di Pan D’arte café dan memperoleh cukup ilmu memasak, ia kemudian pindah ke sebuah restoran Australia bergaya modern, Bills. “Saya terus mengasah ketrampilan memasak secara otodidak,” ujarnya. Kariernya sebagai chef terus berkembang, ia pun mempelajari front of house, service dan manajemen restoran. Ia dipercaya menjadi bar manajer di restoran Italia, Lanzafame.
Tahun 2009, ia memutuskan bergabung ke Sydney Dance Lounge sebagai manager. Tepat setahun setelahnya, ia mendapat tawaran sebagai General Manager di The Nest Grill dan mendapat berkat yang tak ia sangka, ditempatkan di Jakarta.

Juri Master Chef
Tahun 2010 menjadi lompatan besar dalam kariernya di bidang kuliner. Arnold yang memang ingin bekerja di luar negeri, sangat bersemangat untuk kembali ke Jakarta. Dengan segudang pengalamannya, tak perlu waktu lama bagi dia untuk menciptakan konsep restoran yang cozy.
“Ada satu hal yang membuat saya merasa kurang, setelah melihat kualitas makanan yang disajikan chefnya,” ujarnya. Ingin menyajikan yang lebih baik, maka setiap hari, ia terjun langsung ke dapur. “Tiga bulan kemudian saya ditunjuk sebagai Chef,” jelasnya, sambil tertawa.
Dari situlah, ia berteman dengan banyak chef di Jakarta salah satunya, Juna Rompey. Ia kemudian ditawari oleh Juna tampil sebagai bintang tamu di salah satu episode Master Chef Indonesia season 2. Ketampanan dan ketrampilannya mengolah masakan memukau banyak orang.
Keberuntungan kembali mengitari hidupnya. Tepat di awal tahun 2013, ketika kontrak kerjanya di restoran The Nest Grill berakhir, ia justru didekati tim RCTI untuk menjadi Juri Master Chef Indonesia season 3, menggantikan Juna. “Ini diluar ekpektasi saya, saya sangat bersyukur dipilih menjadi juri di acara ini,” jelasnya.
Ia mengaku awalnya ragu untuk menjalani pekerjaan ini karena akan sangat berbeda dengan pekerjaan yang selama ini ia lakukan. Namun, akhirnya ia menerima tawaran ini dan menggangapnya sebagai tantangan baru.
“Ternyata, sangat berbeda dengan bekerja di restoran. Saya sempat stress karena saya tak terbiasa menunggu, ini membuat saya sering mengomel,” ujar pria yang memiliki prinsip selalu on time dalam bekerja ini.
Untungnya, teman sesama juri, Chef Degan Soeptoadji memberinya pengertian. “Di program televisi melibatkan hampir 100 orang, berbeda dengan di restoran yang mungkin lebih sedikit orang. Tentu berbeda koordinasinya,” ujar Arnold mengutip ucapan Degan. Ia pun mulai menyesuaikan diri dengan ritme pekerjaan barunya itu.
“It’s been great! Sebagai juri saya tak hanya mengajari mereka cara memasak. Namun menggali potensi kontestan dan mencari yang terbaik untuk jadi pemenang,” ungkapnya. Ia pun tak segan-segan mengeluarkan kritikan pedas jika memang masakan yang dimasak kontestan tidak enak.
“Banyak yang bilang saya pedas ketika memberi kritik, namun saya mencoba berkata apa adanya,” ungkapnya. Ia mencontohkan salah satu kontenstan ia beri julukan Master Buka Botol, lantaran menghabiskan waktu dengan membuka 10 botol saus. “Ini kompetisi master Chef bukan kompetisi buka botol,” jelasnya, tegas.
Begitu pula, ketika ia menyebut makanan yang disajikan salah satu kontestan adalah makanan kaki lima. “Saya tidak masalah dengan makanan kaki lima, kecuali show ini adalah Master Chef kaki lima,” ungkapnya, sambil tersenyum. Satu hal yang ia inginkan dari kompetisi ini adalah mengubah koki amatir menjadi professional.

Tak Besar Kepala
Menjadi juri di acara televisi yang disiarkan secara nasional membuatnya cepat populer. Menyandang gelar celebrity chef adalah fragmen baru di hidupnya. “Setiap saya jalan, ada saja yang mengenali wajah saya. Ketika saya ke Surabaya, tak lagi bisa jalan santai seperti dulu, I don’t have privacy,” ungkapnya.
Dilema baginya, ketika seorang fans yang meminta foto bersamanya. “Jika ditanggapi maka yang lainnya akan minta foto, jika tidak ditanggapi maka sombong, serba salah,” ungkapnya sambil tertawa. Ia menyadari ini semua konsekuensi dari pekerjaannya.
Arnold mengaku, meski tengah menaiki tangga popularitas, hal itu tidak membuatnya besar kepala. “Saya masih sama, tak ada yang berubah, bahkan jika terdesak waktu untuk syuting, saya sering minta jemput kru naik motor, tak jadi soal bagi saya,” ungkap pria yang mengaku workaholic ini.
Berkutat dengan jadwal pekerjaan yang sibuk membuatnya lupa akan kuliah. “Jika saya bisa memutar waktu, mungkin saya akan kuliah baik bisnis atau marketing. Namun, saya merasa ini sudah terlambat, lebih baik saya fokus di karier,” ungkap pria yang hobi berkebun ini.
Ke depannya, ia akan mengembangkan toko kue ibunya di Australia untuk dibawa ke Jakarta. “Sudah 3 tahun berjalan, setiap hari kami membuat 1000-1500 macaroons yang disupply ke 20 café, semua dikerjakan secara homemade,” ungkapnya.
Lantaran tayangan Master Chef Indonesia 3 yang sudah selesai proses syutingnya, ia akan terbang ke Sydney untuk berkumpul bersama keluarga sementara waktu, dan kembali ke Jakarta tahun depan. “Saya berharap suatu saat bisa membuka restoran sendiri,” ujar pria yang mendalami olahraga kickboxing.
Hal terbesar yang ingin ia lakukan adalah mengubah padangan orang terhadap makanan. Ia mengambil contoh, customer yang menikmati makanan di restoran. Saat orang bilang enak, itu kebanggaan tersendiri bagi seorang chef. Semua chef memiliki ego agar orang lain senang menyantap masakannya.
Kadangkala, orang tidak menyadari setiap makanan berasal dari bahan-bahan yang memerlukan banyak cinta untuk sampai di mejanya. Sapi butuh waktu bertahun-tahun hidup dirawat petani sebelum disembelih, sayuran pun demikian, butuh berbulan-bulan sebelum dipetik. Bahkan hingga proses memasak, setiap chef mencurahkan waktu dan segenap perasaan untuk masakannya. “Maka jika ada orang yang seenaknya membuang makanan, tentu itu membuat sakit hati,” ungkapnya. Ia ingin setiap orang bisa lebih menghargai makanan yang mereka makan.
Terlepas dari itu dengan kemampuan memasak yang dimilikinya, ia ingin membuat masakan Indonesia menjadi masakan berkelas dunia dengan teknik dan improvisasi yang telah ia pelajari. “Misalnya cendol, tak hanya akan sebagai minuman biasa, namun dengan teknik memasak yang berbeda bisa menjadi desert yang nikmat,” jelasnya.

Daria Rani Gumulya
Artikel ini pernah dimuat di Majalah Femina no 34/th 2013

Lailly Prihatiningtyas Dedikasi untuk Candi

laily-jpg

Foto: Gavic Cesario untuk Femina

Hidup Lailly Prihatiningtyas (28) selalu dipenuhi rencana-rencana yang bangun. Namun, kenyataan jauh lebih indah dari rencana impiannya.

Aura kesederhanaan terpancar dari wanita muda ini. Berkerudung, mengenakan blus warna putih dan blazer hitam, ia mengumbar senyum manisnya. Di balik kederhanaannya, hingga saat ini, Tyas pemecah rekor sebagai Dirut BUMN termuda Indonesia, di usia 28 tahun. Ia sama sekali tak gentar menerima tawaran jabatan dari Dahlan Iskan, Menteri BUMN, untuk memajukan PT TWC (Taman Wisata Candi) Borobudur, Prambanan, Ratu Boko.

Siap ‘Berperang’
Rapat pimpinan (rapim) di suatu pagi di bulan November 2013 lalu mengubah hidup Lailly Prihatiningtyas atau yang akrab disapa Tyas. Rapim kali itu istimewa karena dihadiri oleh menteri Dahlan Iskan. Agendanya, rapat tersebut untuk mencari pengganti Direktur PT TWC sebelumnya, Ricky Siahaan.
Saat itu, Tyas masih menjabat sebagai Kepala Penyajian Informasi Divisi dan Informasi Kementerian BUMN. Ia bertugas menyediakan bahan-bahan rapat sebagai pertimbangan bagi para direksi. “Pak Dahlan tipe orang yang tidak suka laporan tertulis, ia lebih suka mendengarkan penjelasan secara langsung. Usai saya presentasi, Pak Dahlan menunjuk saya sebagai Dirut,” ujar wanita kelahiran Jombang, 22 Desember 1985 ini. Tyas mengaku kanget dan pernah menyangka dirinya akan dicalonkan.
Setelah menunjuk, Dahlan lantas menanyakan kepada direksi yang hadir untuk apakah ada yang keberatan dengan usulannya. Mereka semua menerima Tyas sebagai Dirut. Meski begitu, Tyas tetap harus menjalankan prosedur fit and proper test selama 2 minggu, mulai akhir November hingga awal Desember.
“Ada sebuah lembaga independen yang bertugas menguji kompetensi saya, mulai dari kemampuan manajerial, soft skill, hingga wawancara. Hasil assestment test tersebut untuk input evaluasi para direksi. Hasil ini menentukan seseorang layak ditunjuk sebagai direktur atau tidak,” jelas wanita yang menjabat eselon 4 di usia 26 tahun.
Nyatanya, tanggal 16 Desember 2013 lalu Tyas resmi dilantik sebagai Direktur Utama PT TWC. Hingga saat ini, Tyas pemegang rekor Direktur BUMN termuda di Indonesia. Menurut website http://www.dahlaniskan.com, Tyas dicalonkan karena pintar secara akademik dan sangat antusias dalam bekerja.
Gaya kepemimpinan Dahlan memang memberi kesempatan pada generasi muda yang pintar untuk menduduki posisi puncak di perusahaan. Selain Tyas, sebenarnya ada Ibnu Najib (30) yang ditunjuk sebagai Dirut Semen Kupang. Namun, pria tersebut menolak tawaran tersebut karena belum siap.
Meski sempat terlintas keragu-raguan di hati Tyas untuk menerima tawaran tersebut, ia segera menepisnya. “Tidak ada pilihan untuk tidak siap. Bagi saya, ini tugas yang harus dijalankan. Selama tidak melanggar koridor peraturan, saya akan laksanakan,” ujar wanita peraih gelar master Accounting dari Universitas Tillburg, Belanda, penuh keyakinan.
Tugas utama Tyas sebagai Dirut adalah mengelola sumber daya yang ada di perusahaan, menjalankan koordinasi dengan berbagai pihak, dan mendukung konservasi pelestarian 3 candi, Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko.
Menurut Tyas, PT TWC tidak bertanggungjawab dalam pengelolaan candinya saja, namun juga wilayah di sekitar candi berikut nilai sejarah, pendidikan, seni yang harus dilestarikan. “Tantangan terbesar adalah mengelola stakeholder yang beragam. Setiap candi memiliki otoritas masing-masing. Borobudur misalnya, sebagai world heritage, dimana Unesco sangat concern di situ. Dari sisi tourism ada kewenangan dari Kemenparekraf. Belum lagi ada dari Pemda dan Provinsi Jawa Tengah. Bersinergi dengan para stakeholder bukan tugas yang mudah,” jelas sulung dari 4 bersaudara ini.
Memasuki tahun 2014, hal pertama yang ia lakukan sebagai dirut adalah menargetkan sebanyak 5,1 juta wisatawan mengunjungi 3 candi di tahun ini. “Saya ingin ada peningkatan 20% dari tahun lalu,” tegasnya. Untuk mewujudkan hal itu, ia mengusulkan pembuatan e-ticketing dan promosi menggunakan internet. Saat ini, Tyas sedang konsentrasi mencari permasalahan yang menghambat kemajuan perusahaan, selanjutnya memetakan reposisi bisnis untuk kemajuan perusahaan.

Berani ‘Tercebur’
Dalam bekerja, Tyas memiliki prinsip utama yang selalu ia pegang, integritas. “Kejujuran melaksanakan prosedur, jujur mau menerima diri sendiri memiliki kelemahan dan kekuatan, pada akhirnya mau terbuka untuk terus belajar, karena saya menikmati proses pembelajaran” ungkapnya. Ia sadar masih minim pengalaman, untuk itu, ia senang hati menerima masukan dari para direksi.
Bagi Tyas, keberhasilan suatu perusahaan bukan ditentukan dari pimpinan saja, melainkan dari kerjasama dan kolaborasi seluruh personil perusahaan. Untuk hal ini, Tyas mengutip salah satu kalimat dari Bung Hatta, tokoh idolanya. “Jangan mencita-citakan pemimpin untuk Indonesia, tapi kehendakilah pahlawan-pahlawan tanpa nama.” Menurutnya, kata-kata ini masih sangat relevan diterapkan hingga saat ini.
Melihat perjalanan hidup Tyas, ia mengaku tipe orang yang selalu ‘menceburkan diri’ pada hal yang menjadi pilihannya. Seperti saat ia mendaftar di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). “Ketika SMA, saya tidak suka akuntansi, namun karena sudah diterima di STAN, saya harus siap dengan konsekuensinya, termasuk ikatan dinas sebagai PNS,” jelas wanita yang justru menyukai pelajaran sejarah ini.
Ada kisah dibalik nama Prihatiningtyas. Ketika Tyas lahir, ayahnya, Abdul Rochim, tidak sempat melihatnya, karena masih berdinas di Madura dan tidak memiliki uang untuk pulang ke rumah. Tyas bertemu ayahnya sampai usianya 4 tahun. Meski ditempa oleh kenangan pahit, namun ia tetap tegar melawan setiap rintangan hidup.
Tyas tumbuh menjadi remaja yang pintar. Sejak SD hingga SMA ia selalu juara kelas. Ia kemudian mendaftarkan ke STAN, sesuai dengan harapan orangtuanya. Tamat kuliah di tahun 2006, Tyas disodorkan pada pilihan berbagai instansi pemerintah. Pilihannya jatuh pada Kementerian BUMN karena ia ingin segera melanjutkan kuliah lagi. Berbeda dengan dinas pajak, ia harus menunggu beberapa tahun untuk kuliah lagi.
Di Kementerian BUMN, Tyas ditempatkan di bagian SDM. Tugasnya seperti perekrut. Menganalisis CV, mengecek track record seseorang dan mencari rekomendasi dari berbagai pihak. Meski tidak berhubungan dengan backgroundnya, ia mau belajar dari nol. Di sela waktu kerjanya, ia memanfaatkan waktu untuk kuliah S1 jurusan Ekonomi Universitas Indonesia.
Tak perlu waktu lama bagi Tyas untuk muwujudkan mimpi lain. Setahun setelah lulus dari UI, ia mendapat beasiswa dari Pemerintah Belanda untuk mengambil gelar master akuntansi keuangan di Tillburg University.
Tyas mengaku, pendidikan tinggi yang ia tempuh, sangat membantunya dalam penyelesaian tugas. “Karena di pusat data, saya harus mengolah data keuangan perusahaan. Dibutuhkan skill khusus untuk menganalisa laporan keuangan,” jelas anak pasangan guru ini.
Bagi Tyas, pendidikan penting untuk membentuk pola pikir. Ia mencontohkan, dalam penyusunan jurnal sangat bermanfaat untuk berpikir secara runut. Namun, tidak menutup kemungkinan banyak hal yang di luar bangku kuliah yang berguna di dunia kerja.
Dengan jabatan barunya, banyak teman mendukung dan memberi pesan untuk menjalakan tugas dengan sebaik-baiknya. Ayahnya, memberi sebuah pesan sebelum dia diangkat. “Jangan sampai rendah diri dan jangan tinggi hati,” ujar wanita yang hobi mendaki gunung untuk melepaskan stress ini.

Daria Rani Gumulya
Foto: Gavic Cesario

Ratih Ibrahim Si ‘Mesin Pengolah Sampah’

ratih2

Foto: Femina Magazine

Nilai seorang psikolog terlihat dari caranya menjaga rahasia klien.

Penampilannya selalu segar dan trendi dengan rambut pendek berwarna merah. Pembawaannya hangat dan ramah. Tak salah jika Ratih Ibrahim (47) sering disebut ‘psikolog wangi’ oleh banyak kalangan. Kepada femina, ia bercerita tentang rasa cintanya pada profesi, termasuk cita-citanya tentang kesehatan mental masyarakat.

Perlahan Mencintai
Tak ada yang mengira, psikolog yang sering tampil di majalah dan televisi ini dulu ingin menjadi pelukis. Karena itu, ketika lulus SMA tahun 1984, ia ingin melanjutkan kuliah di Jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB).
Namun, ayahnya yang memiliki kantor akuntan, menginginkan ia kuliah di fakultas ekonomi. “Saya merasa tidak mahir pelajaran ekonomi, untuk itu saya bernegosiasi dengan kedua orang tua,” kenang Ratih. Dari diskusi tersebut, mereka menemukan jalan tengah: Jurusan Psikologi Universitas Indonesia. Setelah menjalani tes, Ratih berhasil lolos masuk ke jurusan tersebut.
Masa-masa awal kuliah merupakan masa paling menyenangkan. Bagi Ratih, psikologi itu mudah, karena itu ia mengaku jarang belajar. Ia lebih suka menghabiskan waktunya untuk bermain bersama teman-teman kampusnya. Perlahan, nilainya pun jatuh.
Ratih mengaku beruntung, pada saat yang bersamaan, kekasihnya yang kuliah di luar negeri sedang pulang ke Indonesia. “Dia memarahi saya. Ia juga yang membuka kesadaran saya untuk serius belajar,” ujar wanita kelahiran 26 Januari 1966 ini. Sejak itu, Ratih mulai semangat belajar. Makin ia belajar, ia makin jatuh cinta pada psikologi. “Saya mulai engage setelah semester 6,” ungkapnya. Ratih terus tertantang mengatasi kasus-kasus psikologi dengan teori dan konsep yang telah ia pelajari.
Ratih mempraktikkan teori dan konsep buku yang sudah dipelajari dengan bekerja sebagai konselor di SMA Santa Ursula, Jakarta. Berpikir jauh ke depan, ia pun memutuskan kuliah Magister Manajemen di Prasetya Mulya. “Setelah belajar bisnis, cara berpikir saya jadi lebih rapi,” ungkap wanita yang menjadi juri Wajah Femina 2012 ini.
Tahun 2002, Ratih memiliki ide untuk membuka kantor psikologi. Mulai dari nol, ia mendirikan Personal Growth yang modalnya ia ambil dari uang tabungan. Ratih mendedikasikan Personal Growth untuk kedua anaknya, Renald dan Rafael serta anak-anak Indonesia lainnya. Menurutnya, membangun kesehatan mental masyarakat adalah lewat layanan psikologi dan edukasi.
Tujuan dari layanan konseling Personal Growth ini tak lepas dari nilai-nilai yang diturukan dari orang tuanya “Mereka mengajarkan bahwa hidup tidak sendirian dan pentingnya membagi ilmu kepada orang lain. Fokus kami saat ini adalah membangun bangsa, maka perlu pendidikan yang memadai bagi generasi paling muda” ungkapnya.
Ratih sengaja menggunakan nama Personal Growth untuk menghormati teman-teman seprofesi yang bergabung di kantornya. “Jika menggunakan nama Ratih dan rekan, kesannya arogan,” jelasnya.
Lagi pula, ia menyukai paduan kata tersebut. Menurutnya, sel dari bangsa terdiri dari individu-individu. Jika tiap orang berkembang dengan sehat, maka efek positif itu akan menular kepada yang lain dan yang lainnya. “Jika semua orang berkembang dengan baik, maka akan muncul healthy society,” ujarnya.
Pengalaman lebih dari 20 tahun berkarya di bidang psikologi membuat namanya makin berkibar. Langkahnya yang konsisten memang telah membuahkan hasil yang manis. Saat ini, sosoknya dikenal publik untuk mewakili ikon berbagai brand ternama. “Jika saya menerima tawaran sebuah brand, tentu harus ada value yang tersampaikan, misalnya self esteem, atau empowering women,” ujar wanita yang menjadi board of expert sebuah parenting center ini.
Ratih berprinsip, untuk bisa menginspirasi orang lain, seseorang harus dikenal terlebih dahulu. “Sebagai psikolog, yang bisa saya lakukan adalah menjadi psikolog yang outstanding. Untuk itu, saya selalu all out dalam bekerja.” ujarnya, serius.

ratih1

Foto: Femina

Tak ‘Memelihara’ Klien
Tiap profesi selalu memiliki tantangan, tak terkecuali profesi sebagai psikolog. Ratih mengatakan, orang yang datang kepadanya berasal dari berbagai macam karakter dan juga motif di belakangnya. “Ada orang yang ingin memeriksakan anaknya, berdiskusi, atau bahkan ingin bertemu dengan saya saja.”
Namun, tantangan paling berat sebagai psikolog jika ada klien yang mempunyai power, money, position, dan very smart datang membawa isu persoalan rumah tangga. Diskusi dengan klien seperti ini ia rasakan paling berat karena dengan kecerdasan dan kekuasaannya, mereka sulit untuk ‘ditaklukkan’. “Apalagi bila kasusnya perselingkuhan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang saya pegang, itu melelahkan dan membutuhkan banyak energi,” ujar wanita berambut pendek ini.
Ketika menghadapi kasus seperti itu, yang dapat ia lakukan adalah mendengarkan, mengiyakan, dan mencarikan pilihan paling aman yang bisa diambil. Biasanya, setelah menghadapi klien yang sulit, Ratih akan diam, berdoa, bahkan kadangkala ia perlu menangis sebentar. Ia sering merasa kasihan pada kliennya.
“Saya mengibaratkan profesi saya ini seperti mesin pengolah sampah. Semua yang datang kepada saya membawa masalah. Tapi, kalau ‘sampah’ itu bisa saya olah, hasilnya bisa bermanfaat misalnya menjadi ‘kompos’,” ujar istri Robert Ibrahim ini.
Ratih rajin mencatat semua kasus yang ia tangani. Dan ia selalu menutupnya rapat-rapat setelah kasus selesai. Ia tipe psikolog yang tak ingin ‘memelihara’ klien. Prinsipnya, jika masalah bisa diselesaikan dengan sekali pertemuan, mengapa harus dibuat dua kali?
“Nilai seorang psikolog terlihat dari bagaimana ia menjaga rahasia kasus dan identitas kliennya. Hal ini yang saya pegang,” ujarnya. Ia mencontohkan, ketika sedang ngobrol dengan kawan-kawannya dan pembicaraan itu menyinggung tentang seseorang yang merupakan kliennya, Ratih akan tutup mulut dan berpura-pura tidak tahu masalahnya.
Tiap hari harus ‘mengolah sampah’ orang lain, tentu Ratih merasa capek. Tapi, ia punya cara untuk menyeimbangkan hidupnya, yaitu menghabiskan waktu lebih bersama keluarga. “Melihat anak-anak bertengkar itu menyehatkan jiwa,” ungkap penggemar bakmi ayam ini. Saat senggang ia biasa isi dengan menonton serial favoritnya, CSI, atau belanja ke pasar tradisional bersama suami.
Ratih berjanji pada diri sendiri untuk terus bekerja. “Saya tidak akan pensiun,” ujarnya. Ia memiliki cita-cita Personal Growth menjadi kantor psikolog dengan reputasi kelas dunia. “Saya juga ingin memiliki beberapa kantor di Jakarta supaya lebih banyak orang yang bisa dibantu hidupnya. Lagi pula, dalam lima tahun ke depan yang duduk di manajemen bukan saya, namun ada orang-orang yang menggantikan saya,” ujarnya.
Tak hanya itu, Ratih ingin membangun jasa telekonseling sehingga konseling bisa dilakukan via telepon atau internet. “Sudah pernah dicoba, namun karena pasar belum siap, jadi saya simpan dulu. Saya yakin, jika market telah siap, kami akan memberikan jasa secara telekonseling,” ujarnya, menutup pembicaraan.
Daria Rani Gumulya
Foto: Todi

Artikel ini pernah dimuat di Femina, edisi Maret 2013

Untung Besar Dari Kerajinan Tangan

Menyasar niche market, produk dekorasi rumah berbasis kerajinan tangan akan terus eksis sepanjang tahun.

Kunci berbisnis dekorasi adalah kemampuan menciptakan ide-ide kreatif baik desain maupun warna untuk diaplikasikan dalam produknya. Meski minim modal, ketiga wanita ini berhasil membesarkan bisnis dekorasi rumah handmade hingga lebih dari empat tahun. Cerita bagaimana mereka mengembangkan bisnis ini bisa menjadi inspirasi bagi Anda untuk merintis usaha.

wastraloka

Foto: @wastraloka

Wastraloka
Terinspirasi Motif Batik Lawas
Ide Bisnis
Berawal dari orang tua yang kolektor batik antik, Eni Anjayani (35) jadi menaruh perhatian pada kain-kain tradisional. Akhir tahun 2010, ia mulai mengembangkan bisnis Wastraloka, produk kerajinan tangan dari bahan kain batik lawas. “Kain koleksi tersebut saya aplikasikan pada dompet, tas, dan pouch,” ujar Eni. Lantaran koleksi batik lawas makin terbatas dan sulit dicari, ia memperoleh ide untuk membuat repro dari motif kain batik lawas tersebut ke bahan lain. “Saya pun belajar melukis ke guru lukis yang ahli melukis di kaleng,” ujar Eni.
Ia kemudian mulai mengaplikasikan lukisan batik tersebut ke berbagai barang, mulai dari mug kaleng, kayu, nampan, hingga anglo (kompor tradisional). Modal awalnya sekitar lima juta rupiah untuk dibelikan bahan baku, seperti mug kaleng, kayu, dan cat akrilik.

Keunggulan Produk
Saat ini Wastraloka sudah mengembangkan 3 kategori produk, yaitu aplikasi wastra, kaleng lukis, dan dekorasi rumah dari kayu dengan desain vintage. Produknya pun beraneka ragam, mulai dari gantungan baju (kapstok), tempat tisu, hingga tempat benang berbentuk miniatur mesin jahit. Pada dasarnya, teknik lukis ini bisa diaplikasikan pada tiap benda, sehingga membuka ruang bagi Eni untuk berkreasi.
“Kami membidik konsumen penggemar kain batik lawas. Umumnya, jika sudah suka satu motif batik lawas, mereka akan tertarik pada produk yang memiliki motif sama. Termasuk mencari dekorasi untuk ruang tamu dan ruang makan yang senada dengan motif batik lawas favoritnya,” ungkap Eni.
Selain mengutamakan kualitas dan kerapian lukisan, keunggulan produk Wastraloka adalah kekhasan budaya Indonesia. “Saya ingin mengangkat budaya Indonesia dan mengenalkannya kepada orang luar. Untuk itu, semua produk Wastraloka kami sertai keterangan dalam bahasa Inggris,” jelas wanita yang mempekerjakan 3 penjahit, 4 pelukis, dan 2 freelancer ini.

Trik Marketing
Awalnya menggunakan media sosial seperti Facebook, Instagram, dan blog sebagai tempat promosi, kini Eni sedang mengembangkan website Wastraloka. Selain itu, dalam waktu dekat produk Wastraloka juga akan masuk galeri Chic Mart di Kemang, Jakarta.
Eni juga mengikutsertakan produknya dalam pameran-pameran, baik yang diadakan pemerintah maupun swasta. “Pameran seperti Inacraft, selain mendongkrak angka penjualan juga sebagai ajang pengenalan produk kami kepada masyarakat luas,” jelas Eni.
Saat ini omzet rata-rata per bulan sekitar Rp50 juta. “Belum untuk biaya operasional dan gaji karyawan,” jelas Eni.

Tantangan Bisnis
Bahan baku yang cenderung masih mahal, awalnya menjadi kendala baginya. Selain itu, karena harus membeli satuan di toko langganannya, hal ini juga berpengaruh ketika ia sedang kebanjiran pesanan, karena stoknya terbatas.
Kini, Eni menyiasatinya dengan bekerja sama langsung dengan perajin. Selain stoknya banyak, harganya pun jauh lebih murah. Ia juga sudah bisa memenuhi permintaan dari pembeli, termasuk pembeli tetap dari Australia. “Produk kami banyak digunakan untuk oleh-oleh, termasuk suvenir pertukaran pelajar dari pelajar luar negeri,” ujar Eni.
Hal yang masih menjadi kendala Eni adalah kesulitan mencari karyawan yang dapat melukis sesuai dengan desain batik lawas. “Kendala terbesar ada di pengembangan ide, karena tenaga kreatif yang terbatas yang bisa mewujudkan desain sesuai standar kami,” jelasnya.

deconia

Foto: Deconia Decoupage

Deconia Decoupage
Mengandalkan Ketelitian
Ide Bisnis
Sekitar 20 tahun lalu, Kania Sari (46) mendapatkan sebuah majalah dari saudaranya. Di sisipan majalah tersebut ada kertas yang berisi tentang cara dan teknik decoupage. Lima tahun lalu, ketika sedang membongkar gudang di rumahnya, tanpa sengaja ia menemukan sisipan decoupage tersebut. Dari sinilah bisnisnya mulai bergulir.
“Saya mulai tertarik membuat sendiri. Saya sudah mencoba berbagai bisnis dari konveksi hingga katering, sepertinya ini bisa menjadi lahan bisnis,” ujar Kania. Tahun 2010, Kania belajar banyak tentang decoupage, mulai dari membaca buku-buku hingga mengambil kursus ke Malaysia, Singapura, Thailand, hingga Italia. Ia memulai bisnis Deconia dengan modal awal satu juta rupiah. “Modal saya gunakan untuk membeli bahan dasar berupa kayu dan gelas,” ungkap Kania.

Keunggulan Produk
Decoupage berasal dari bahasa Prancis, yang artinya memotong. Bentuk kerajinan tangan ini memerlukan potongan-potongan bahan dari kertas atau tisu yang kemudian dilapisi beberapa lapis cat, semen, gip, lalu dipernis atau dipelitur. “Teknik ini bisa diaplikasikan ke berbagai media, seperti kayu, gelas, kaleng, dan kain,” ujar Kania.
Kelebihan dari produk Deconia terletak pada kerapian pengerjaan, mulai dari potongan-potongan kertas yang ditempel, proses furnitur, hingga desain lukisannya. “Harus memperhatikan detailnya,” ujar Kania.

Trik Marketing
Saat ini penjualan lebih fokus di media sosial, dari Facebook hingga Instagram. Pemesanan juga banyak dilakukan lewat Whatsapp. Sesekali, Kania juga ikut pameran di mal. “Produknya mulai dari gantungan kunci seharga sepuluh ribu rupiah hingga lima juta rupiah berupa lemari,” ujar Kania.
Dalam sebulan, Kania kini sudah bisa mengantongi omzet Rp10 juta sampai Rp20 juta. Selain penjualan produk, ia juga menjual bahan bakunya, seperti lem, cat minyak, kertas, dan tisu untuk mereka yang hobi kerajinan tangan decoupage. “Saya juga mengajar les teknik decoupage ke beberapa orang,” ujar ibu 4 anak ini.

Tantangan Bisnis
Hingga saat ini Kania hanya merekrut 1 pegawai untuk bagian administrasi. Untuk pengerjaan, dia mengandalkan bantuan dari 4 anaknya. “Kebetulan anak-anak suka, apalagi hasil pekerjaan mereka sangat rapi,” ujarnya. Menurutnya, mencari karyawan yang cocok dan mengerjakan dengan teliti sangat sulit didapat.
Hal yang menjadi tantangan saat ini adalah bahan-bahan yang masih impor dari Italia. “Setelah order, barang baru datang sekitar dua mingguan. Kalau pesanan sedang banyak, saya kewalahan karena kehabisan bahan baku,” ujar Kania. Untuk itulah, ia sering membeli bahan baku dalam jumlah banyak.

miglia4

Foto: Miglia

Miglia
Bermain di Warna-Warna Cerah
Ide Bisnis
Dulunya, Haneda Ananta (40) dan Lienovi Hendralina (40) adalah rekan sekantor di sebuah website online. Pada April 2012, mereka berdua mengembangkan produk dengan teknik aplikasi sulam. “Haneda sebelumnya pernah memiliki usaha di bidang aplikasi sulam. namun pecah kongsi. Kemudian kami berdua memulai membangun Miglia,” jelas Novi.
Miglia berasal dari bahasa Italia, yang artinya jalan yang panjang atau jutaan. Filosofi yang ingin diangkat pemiliknya adalah agar usaha mereka panjang umur dan begitu pula orderannya akan terus mengalir.
Keduanya berbagi tugas, Eda lebih banyak produksi, sedangkan Novi lebih ke marketing dan promosi. Keduanya memulai bisnis ini dengan modal sekitar Rp5 juta untuk dibelanjakan bahan baku berupa kain kanvas, kain, dan benang jahit.

Keunikan Produk
“Saat awal terbentuk, kami memproduksi tas, kemudian lama-kelamaan berkembang ke pouch, bantalan kursi, hingga sarung bantal,” ujar Novi. Kisaran harga produknya mulai dari Rp120.000 (pouch) hingga Rp450.000 (bantal lantai ukuran 80 cm x 80 cm). Mereka berdua memilih kanvas terpal sebagai bahan utama produk-produk Miglia karena awet dan teksturnya berkarakter. “Keunggulan produk kami terletak pada desain dan permainan warna bright and bold. Penambahan sketsa atau lukisan tangan pada beberapa produk menjadi daya tarik tersendiri,” ujar Novi.
Jika selama ini banyak produk sulaman untuk segmen anak-anak, Miglia justru menyasar market usia dewasa, terutama pasangan muda yang baru mendekorasi rumah. Saat ini Miglia terus berinovasi dengan mengembangkan motif desain baru untuk menarik pelanggan. “Motif floral dan seri burung banyak diincar pembeli,” ujar Novi.

Trik Marketing
Miglia kini sudah memiliki workshop yang terletak di daerah Kelapa Dua, Depok. Selain mengadakan pelatihan bagi ibu rumah tangga di sekitar lingkungannya, mereka juga tengah menyusun konsep buku sulam aplikasi yang menarik.
“Saat ini, kami sudah memiliki 5 orang penyulam paruh waktu. Para penyulam ini adalah ibu rumah tangga yang tinggal di sekitar workshop. Mereka biasa datang pukul 14.00 dan bekerja di workshop hingga pukul 17.00,” ungkap Novi.
Untuk pemasaran, Miglia lebih banyak menggunakan media sosial Facebook dan Instagram. “Dengan menggunakan media online, Miglia mencoba membidik pasar mancanegara. Beberapa pelanggannya berasal dari Oman, Jepang, dan Amerika. Mereka membeli untuk dijadikan buah tangan. Bulan Mei 2015, Miglia akan membuka showroom di sebuah ruko di Bintaro.

Tantangan Bisnis
Demi menjaga kualitas, dibutuhkan waktu 4 hari untuk menyelesaikan sebuah produk. “Lama, karena pengerjaannya 100% sulam tangan. Jadi harus detail, rapi, dan butuh ketelatenan. Karena itu, produk ini sangat eksklusif dan terbatas,” jelas Novi. Penjualan dalam sebulan bisa mencapai 50 buah.Ia mengatakan pernah menerima orderan dari 2 retail besar, namun pada term kedua ia batalkan. Pasalnya, ia tidak sanggup dengan tenggat yang diminta mereka. Keterbatasan produksi saat ini memang menjadi kendala terbesarnya.

Artikel ini pernah dimuat di rubrik Bisnis Femina F23/Mei 2015

Daria Rani Gumulya
Foto: KIR

Surga Kopi Tersembunyi Di Mall Ambassador

wpid-dsc_0018.jpg

Toko Kopi Aroma Nusantara dari depan. Foto: @dariagumulya

Sabtu ini saya pergi ke mall Ambassador karena harus membeli charger laptop yang sudah rusak. Setelah berkeliling dari satu toko ke toko lain, dan akhirnya mendapatkan apa yang saya cari kemudian saya iseng cuci mata di sekitar situ.

Saat naik ke lantai 4, saya menemukan kedai kopi lucu yang unik, bernama Toko Kopi Aroma Nusantara. Kedai itu nyempil diantara toko-toko peralatan computer, toko pakaian, dan kafe-kafe yang sudah ‘berumur’ di mal itu. Jadi kelihatan ‘berbeda’ dari kejauhan.

Sebenarnya kedai tersebut tidak terlalu luas, bahkan tergolong mini. Hanya ada 5 meja, dengan kursi bervariasi, 2, 3, dan 4. Interiornya didominasi kayu dengan lampu yang mengesankan warm. Yang menarik, di dindingnya apa pajangan berupa teko, gelas, dan coffee maker dari yang kecil hingga yang berukuran super besar.

wpid-dsc_0027.jpg

Bar yang rapi dan bersih. Foto: @dariagumulya

Kelebihan kedai kopi ini terletak pada menu kopi yang ditawarkan. Semua kopi berasal dari daerah-daerah di Indonesia, dari Kopi Gayo Aceh, Kopi Mandailing, Lampung, Toraja, Malabar-Jawa Barat, Bali Kintamani, Flores Bajawa, hingga Papua Wamena.

wpid-dsc_0021.jpg

Menu kopi dari berbagai daerah eksotik di seluruh Indonesia. Foto: @dariagumulya

Selain itu, penggemar kopi wajib mencoba pilihan barista: kopi luwak yang mahal (sekitar 86 ribu per gelas) dan Coffe Stout, dark beer with no alcohol, dan Dutch Coffee, kopi yang diproses 10-14 jam brewing bersama dark chocolate, sehingga menghasilkan after taste yang manis. Kayaknya tempat ini surga bagi pecinta kopi.

Karena saya bukan penggemar kopi, saya mencoba minuman dingin bernama BCA (banana, chocolate, almond) dan rasanya nyes!! Heaven! Rasa cokelatnya terasa kental lumer di mulut. Tapi rasanya belum lengkap kalau tidak mencoba kopinya, saya pilih Cappucinno cream brulee, ini semacam kopi cappucinno yang diberi topping caramel kasar. Rasanya hmmmmm…yummy, meski agak sedikit pahit. Tapi tenang saja, cara meminumnya dengan menambahkan creamnya yang tebal dan manis.

wpid-dsc_0019.jpg

Banana choco almond yang melted di mulut. Foto:@dariagumulya

wpid-dsc_0030.jpg

Kopi Mandailing, wadah kopinya sophisticated :). Foto:@dariagumulya

wpid-dsc_0032.jpg

Cappucinno cream brulee, cream yang tebal dengan taburan karamel yang crunchy. Foto:@dariagumulya

Sedangkan menu makananya bervariasi, ada bakso, iga, hingga nasi goreng. Saya mencoba nasi goreng spesial. Rasanya seperti masakan rumahan. Sepertinya chef-nya orang Jawa tengah atau Jogja karena kuat rasa kecapnya, maklum orang Jawa ‘kan emang terkenal suka makanan manis.

wpid-dsc_0029.jpg

Nasi goreng rumahan, rasa seperti makasan ibu 🙂 Foto:@dariagumulya

Selain beli kopi di tempat, kedai ini juga menjual biji kopi yang langsung di-roasted atau dipanggang. Jadi kita bisa melihat langsung bagaimana biji kopi pilihan kita diproses jadi bubuk. Harganya juga tak mahal kok. Kalau kata pepatah: You can’t buy happiness but you can buy a cup of coffee. Selamat mencoba!